Apa Itu GERD?



Cerita gue bermulai dari Desember 2015. Saat itu, gue merasakan dada gue sakit. Selama 2-3 hari gue merasa dada celekit-celekit. Malam di tanggal 19 Desember, gue merasakan mual luar biasa, sesak nafas, dan jantung berdebar-debar, seperti akan mati. Ketika gue searching google, gue mendapati bahwa gejala tersebut merupakan gejala « sakit jantung ». Lalu dengan suksesnya gue gak tidur semaleman. Ketakutan gue dengan sakit jantung diperparah dengan riwayat penyakit jantung yang membunuh sebagian keluarga gue, termasuk bokap gue sepuluh tahun lalu.
Takut kenapa-kenapa, besok paginya gue ke UGD, dokter UGD bilang gue hanya terkena GERD, yaitu penyakit di mana asam lambung naik ke kerongkongan. Gue diinfus anti mual dan glukosa supaya gue gak lemes. Selanjutnya gue dikasih obat pulang sejenis inpepsa, lanzoprasole, dan ranitidine.

Sebenernya gue heran kenapa gue bisa kena GERD. GERD itu kan menyerang lambung. Gue sama sekali gak pernah punya penyakit maag atau lambung sepanjang hidup gue. Gue doyan makan, selalu makan tepat waktu, dan gak suka makanan terlalu ekstrim seperti cabe-cabean berlevel.

Selama berhari-hari gue gak bisa tidur, sampe temen di kantor bilang muka gue kayak zombie dan gue disuruh pulang. Gue gak pulang ke kosan, gue pesen tiket ke Semarang saat itu juga setelah keluar dari kantor. Kenapa ? Gue takut sendirian di kamar. Gue butuh emak gue buat nemenin gue biar gue bisa tidur.

Perlu diketahui, kosan gue berasa agak gimana gitu. Ketika gue tutup pintu dan matiin lampu, sama sekali gak ada cahaya yang masuk dari luar karena gue gak ada jendela. Entah karena itu atau bukan, gue sering banget mimpi serem. Mimpi yang sama berulang-ulang : ada hantu cewek berbaju serba item di kamar gue  yang sukanya mojok di deket pintu. Dan beberapa kali gue mimpi kalo cewek yang sama tergantung di langit-langit tepat di deket lampu.

Bref, kembali ke persoalan « pulang ke semarang », gue akhirnya dapet tiket saat itu juga. Gue sama sekali nggak yakin bakalan dapet. Tapi Tuhan berkata lain , ada orang batalin 1 tempat. Ini pertama kalinya gue naik kereta ekonomi setelah bertahun-tahun (karena gue tergolong anak yang gak pernah pulkam). Gue tertidur di kereta ekonomi, yang saat itu penuh luar biasa karena liburan Natal. Lumayan gue bisa tidur sejam dua jam. Meskipun bocah di sebelah gue tidurnya nyender gue muluk.

Sampe rumah sekitar jam 3 pagi. Gue masih berjuang untuk tidur. Gue tidur sekasur sama emak gue. Di situ gue peluk emak gue karena gue sulit banget memejamkan mata, dan gue nangis kejer. Gue nangis layaknya bayi dan gue bilang gue gak bisa tidur. Emak gue elus-elus kepala gue, dan gue tidur sampe jam 6 pagi. Besok-besoknya, gue mulai agak bisa tidur. Yah, masih jam 12 atau jam 1 malem, tapi setidaknya GUE TIDUR.

Gue takut banget gak bisa tidur karena gue pernah baca :
Orang dapat bertahan hidup berbulan-bulan tanpa makan. Tapi apabila tidak tidur 10 hari, orang bisa mati.
Takut nggak bisa tidur ini lah yang membuat gue gak bisa tidur.

Setelah liburan tahun baru, keadaan gue membaik. Gue bisa beraktivitas normal dan tidur secara normal. Namun, pertengahan januari, mimpi buruk itu datang lagi. Gue sama sekali nggak bisa tidur selama 4 hari. Gue paling hanya tidur 30 menit di pagi hari. Sisanya, gue melek dengan sejuta sensasi : sakit dada, debar-debar, mual, dan sesak nafas. Gue kambali absen dari kantor dan pulang ke rumah emak. Di semarang, gue berobat ke dokter penyakit dalam yang dulu merawat bokap gue pas doi kena hepatitis C. Obat-obatnya bisa dikatakan manjur, karena gue jadi lebih tenang dan berkurang sakitnya. Tapi, drama yang sama terjadi seperti saat natal : gagal tidur, nangis di pelukan emak, ketakutan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pindah Kosan?

Berteman Dengan Salmonella Typhi